K.A Acep Rodhibillah, S.Pd.I
Beliau merupakan pengasuh Pesantren Al-Barokah Palabuhanratu, Sukabumi-Jawa Barat setelah ayahnya wafat pada tahun 2006 yaitu KH. A Tahuddin Mukhtar kemudian dilanjutkan oleh beliau. Beliau anak ke 5 (bungsu/bontot) dari 4 saudara.
Foto Keluarga
K.A Acep Rodhibillah (Pengasuh Santri Putera), Ustadzah Lelah Helmiah (pengasuh Santri puteri, Kania Nadiyatul Hasni (teteh nada) dan Muhammad Al-Fatiih (abang Fatiih).
Ustadzah Lelah H dan Al-Fatiih (bayi)
Ayo belajar di pondok pesantren biar menjadi manusia berharga.
Ulama itu Amanah Allah
العلمآء أمنآء الله على خلقه "Ulama adalah kepercayaan Allah atas makhlu-Nya".
Senin, 08 Juli 2019
Minggu, 07 Juli 2019
Kitab Al-Iqnaa' Lisy-Syarbiny
الإقناع للشربيني
AL-IQNA' FI HALL ALFAZH ABI SYUJA'
Kitab al-Iqna' fi Hall Alfazh Abi Syuja' ( الإقناع في حل ألفاظ أبي شجاع ) merupakan sebuah kitab fiqh mazhab al-Syafi'i yang terkenal di kalangan ulama mazhab al-Syafi'i yang mutaakhir. Kitab ini adalah hasil karya al-Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Muhammad al-Khathib al-Syarbiniy (977H) sebagai huraian (syarah) bagi sebuah matan fiqh yang terkenal, iaitu Matn al-Taqrib atau terkenal dengan nama Matn Abi Syuja' sempena nama pengarangnya al-Qadhi Abu Syuja’, Syihabuddin Ahmad bin al-Hasan bin Ahmad al-Ashbahani(533-593H).
Kitab al-Iqna’ ini menjadi kitab standard bagi kebanyakan pusat pengajian Islam sama ada peringkat menengah maupun peringkat pengajian tinggi di universiti-universiti di Timur Tengah. Di Malaysia, ia dijadikan teks pengajian fiqh Syafi’iyyah di pondok-pondok.
Berdasarkan beberapa edisi Arabnya, kitab ini mempunyai dua juz, yang digabungkan dalam sebuah buku.
Saya dapati kitab ini ada diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu dan diterbitkan oleh Syarikat Perniagaan Jahabersa. Sebagaimana edisi Arabnya, kitab terjemahan ini juga mempunyai dua juz yang digabungkan dalam sebuah buku yang agak tebal, iaitu 1082 halaman.
Kitab versi Arabnya boleh dimuat turun di
Di antara kitab hasyiah bagi kitab al-Iqna’ ialah;
a) Hasyiah ‘ala al-Iqna’, karya al-Imam al-Qalyubi, Abu al-‘Abbas Ahmad bin Ahmad bin Salamah, Syihabuddin al-Qalyubi al-Mishri (1069H/1659M).
b) Tuhfah al-Habib 'ala Syarh al-Khathib (تحفة الحبيب على شرح الخطيب), karya al-‘Allamah Syaikh Sulaiman bin Muhammad bin ‘Umar al-Bujairimi al-Azhari (1131-1221H). Kitab ini terkenal di kalangan ulama mazhab Syafi’i sebagai al-Bujairimi ‘ala al-Khathib
c) Hasyiah al-Nabrawi ‘ala al-Iqna’ (حاشية النبراوى على الاقناع شرح الخطيب لأبي شجاع)(masih hidup tahun 1257H), karya Syaikh Abdullah bin Muhammad al-Nabrawi. Berdasarkan terbitan Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, ia dicetak dalam 3 jilid. Kitab ini boleh dimuat turun di pautan حاشية النبراوى على الاقناع.
Semoga bermanfaat.
Download Klik di bawah
Kitab Al-Ahkaam As-Sulthaaniyah
كتب الفقه
الأحكام السلطانية
POSTED BY MY BLOG POSTED ON 03.35 WITH NO COMMENTS
AL-AHKAM AS-SULTHANIYAH dan Pemikiran Kenegaraan dalam Islam
Kitab al-Ahkam al-Sulthaniyyah ditulis Imam Mawardi (w. 450 H/sekitar 1072 M), yang nama lengkapnya ialah Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Habib al-Mawardi Asy-Syafii. Kitab ini menunjukkan ketinggian peradaban Islam yang dibangun diatas dasar ilmu-ilmu Islam (ulumuddin). Di zaman ketika Eropa masih dalam zaman kegelapan (sekitar 500-1500 M), kaum Muslim telah menghasilkan karya-karya yang gemilang dalam berbagai bidang keilmuan, termasuk dalam ilmu politik, dengan terbitnya buku karya Imam al-Mawardi ini.
Dan ini tidaklah mengherankan, sebab, Islam bukan hanya wujud dalam bentuk ajaran-ajaran spiritual keagamaan, tetapi Islam juga wujud dalam bentuk peradaban yang mencakup berbagai sistem kehidupan, baik sistem politik, ekonomi, sosial, pendidikan, dan sebagainya. Islam juga satu-satunya agama yang memberikan keteladanan yang tinggi dalam bidang politik dan pemerintahan. Islam bukan hanya membangun aspek duniawi dalam bentuk peradaban materi, tetapi tujuan Islam yang juga diamanahkan kepada para penguasanya adalah membangun manusia-manusia Muslim yang unggul. Prestasi Islam dalam mencetak pemimpin yang unggul ini belum terlampaui oleh peradaban lain di muka bumi. Islam pernah melahirkan penguasa-penguasa yang luar biasa yang bergelimang dengan kekuasaan dan harta benda, tetapi hatinya sama sekali tidak tertakluk pada dunia. Adakah pemimpin dunia dari peradaban lain yang pernah mencapai prestasi Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, dan Umar bin Abdul Aziz, dalam bidang pemerintahan?
Sebagai contoh, mantan biarawati Katolik, Karen Armstrong memuji Umar Ibn Khattab saat menaklukkan Jerusalem (636 M). Secara tegas Armstrong memuji sikap Umar bin Khatab dan ketinggian sikap Islam dalam menaklukkan Jerusalem, yang belum pernah dilakukan para penguasa sebelumnya. Ia mencatat: Umar juga mengekspresikan sikap ideal kasih sayang dari penganut (agama) monoteistik, dibandingkan dengan semua penakluk Jerusalem lainnya, dengan kemungkinan perkecualian pada Raja Daud. Ia memimpin satu penaklukan yang sangat damai dan tanpa tetesan darah, yang Kota itu belum pernah menyaksikannya sepanjang sejarahnya yang panjang dan sering tragis. Saat ketika kaum Kristen menyerah, tidak ada pembunuhan di sana, tidak ada penghancuran properti, tidak ada pembakaran simbol-simbol agama lain, tidak ada pengusiran atau pengambilalihan, dan tidak ada usaha untuk memaksa penduduk Jerusalem memeluk Islam. Jika sikap respek terhadap penduduk yang ditaklukkan dari Kota Jarusalem itu dijadikan sebagai tanda integritas kekuatan monoteistik, maka Islam telah memulainya untuk masa yang panjang di Jerusalem, dengan sangat baik tentunya. (Karen Arsmtrong, A History of Jerusalem: One City, Three Faiths, (London: Harper Collins Publishers, 1997), hal. 228).
Pelopor Ilmu Kenegaraan
Umat Islam adalah umat pertama yang menata pemerintahan dengan cara-cara administrasi tertulis yang sangat jelas. Bahkan, Piagam Madinah adalah merupakan Konstitusi tertulis pertama di dunia. Dr. Muhammad Hamidullah, dalam bukunya The Prophets Establishing a State and His Succession (Islamabad: Pakistan Hijra Council, 1988), menempatkan satu bab berjudul The First Written-Constitution in the World untuk menyebut Piagam Madinah. Jadi, sebelum Rasulullah saw, meskipun banyak pemikir yang membicarakan tentang masalah politik dan kenegaraan, tetapi belum ada satu pun negara yang memiliki Konstitusi tertulis seperti negara Madinah.
Umat Islam adalah umat pertama yang menata pemerintahan dengan cara-cara administrasi tertulis yang sangat jelas. Bahkan, Piagam Madinah adalah merupakan Konstitusi tertulis pertama di dunia. Dr. Muhammad Hamidullah, dalam bukunya The Prophets Establishing a State and His Succession (Islamabad: Pakistan Hijra Council, 1988), menempatkan satu bab berjudul The First Written-Constitution in the World untuk menyebut Piagam Madinah. Jadi, sebelum Rasulullah saw, meskipun banyak pemikir yang membicarakan tentang masalah politik dan kenegaraan, tetapi belum ada satu pun negara yang memiliki Konstitusi tertulis seperti negara Madinah.
Jauh sebelum ilmu politik internasional berkembang di Barat, ulama-ulama Islam juga telah melahirkan karya-karya besar dalam bidang ini. Salah satu yang terkenal, misalnya, ialah Kitab al-Siyar al-Kabir karya Imam Syaibani (w. 804). Kitab ini, pada tahun 1965, diterjemahkan oleh Prof. Majid Khadduri, ke dalam bahasa Inggris dengan judul The Islamic Law of Nations (Baltimore: The John Hopkins Press, 1966). Kepeloporan Syaibani dalam bidang ilmu hubungan internasional jauh melampaui ilmuwan Hugo Grotius (m. 1645) yang dianggap sebagai peletak dasar hukum internasional saat ini. Tetapi, meskipun demikian, bisa ditanyakan kepada para mahasiswa kajian hubungan internasional di banyak universitas Islam, apakah mereka mengenal nama Imam Syaibani atau tidak.
Ketika mempelajari ilmu pengetahuan di jurusannya, mahasiswa diperkenalkan dengan asal-asul keilmuan dalam perspektif Barat, yang biasanya dimulai dengan pemikiran para Filosof Yunani dan langsung meloncat ke pemikiran para ilmuwan Barat abad modern. Didang bidang ilmu politik, misalnya, mahasiswa diperkenalkan dengan sejarah pemikiran politik, mulai pemikiran politik Aristoteles, Plato, dan langsung meloncat ke pemikir-pemikir politik Eropa abad modern. Sebagai misal, dalam buku World Masterpieces (New York: WW Norton&Company Inc, 1956), yang menghimpun karya-karya besar ilmuwan dunia sepanjang sejarah, sama sekali tidak dijumpai karya-karya para ilmuwan Muslim. Dalam bidang politik, yang dianggap pemikir besar adalah Niccolo Machiavelli. Hal serupa bisa dijumpai juga pada buku berjudul Powerful Ideas: Perspectives on the Good Society (Victoria, The Cranlana Program, 2002).
Tahun 1911, orientalis Belanda Snouck Hurgronje menerbitkan bukunya Nederland en de Islam, yang berisi pemikiran dan strategi westernisasi umat Islam: (1) Dalam bidang yang murni agama, pemerintah dan pejabat-pejabatnya harus menjamin dan memelihara kebebasan mutlak, (2) Dalam bidang politik, kebebasan itu harus dibatasi untuk kepentingan bersama, (3) Dalam bidang hukum Islam, pemerintah harus menjauhi intervensi yang dipaksakan, sekalipun harus mendorong ke arah proses evolusi hukum sebanyak mungkin, (4) Garis-garis kebijaksanaan yang kurang lebih negatif ini harus menuju ke arah tujuan yang positif, yaitu kemajuan orang-orang Islam yang harus dibebaskan dari beberapa peninggalnan ajaran abad pertengahan yang tidak berguna yang menyeret mereka hingga demikian lamanya agar supaya dengan jalan ini dengan perantaraan pendidikan dan pengajaran dapat memperoleh kesempatan asosiasi kultural dengan kebudayaan Barat. (Dikutip dari: Mukti Ali, Ilmu Perbandingan Agama di Indonesia, (Bandung: Mizan, 1998), hal. 32.

Al-Ahkam al-Sulthaniyah
Dalam situasi seperti ini, maka penelaahan buku-buku karya ulama Islam, seperti buku al-Ahkam al-Sulthaniyah karya al-Mawardi, sangatlah penting dan berharga. Buku ini mengandung untaian pemikiran politik Islam yang sangat kaya; mengatur berbagai aspek tata cara pengelolaan pemerintahan. Khazanah Islam seperti ini sebagaimana dengan khazanah keilmuan Islam lainnya kini dianggap tidak penting, bahkan dianggap tidak bernilai ilmiah, sehingga sama sekali tidak diperkenalkan kepada para siswa dan mahasiswa jurusan ilmu politik. Maka, jangan heran, jika banyak sekali sarjana ilmu politik yang sama buta sama sekali dengan khazanah politik Islam. Bahkan, mereka tidak merasa perlu tahu, dan menganggap konsep-konsep politik Islam sudah ketinggalan zaman dan tidak perlu dikaji atau ditengok lagi.
Sebagai contoh dalam pemikiran tentang proses pemilihan kepala negara, para elite politik Muslim Indonesia, sepertinya enggan menggali khazanah klasik pemikiran al-Mawardi. Hampir semua terlena dalam euforia demokrasi dan pemilihan langsung kepala daerah. Bahwa pemilihan langsung kepala daerah (pilkada) adalah jalan terbaik untuk memilih kepala daerah. Padahal, proses pemilihan bukanlah substansi penting. Yang terpenting adalah syarat-syarat kepala negara atau kepala daerah yang terpenuhi, sesuai dengan ajaran Islam. Misal, tentang pengangkatan Imam (Khalifah), Al-Mawardi menyebutkan bahwa jabatan imamah dianggap sah dengan dua cara: (1) dengan pemilihan oleh ahlul halli wal aqdi (2) penunjukan oleh khalifah sebelumnya. Al-Mawardi menjelaskan dengan sangat detail bagaimana prosedur pemilihan khalifah oleh ahlul halli wal aqdi. Berbagai pendapat ulama ditampilkan dalam bukunya. Cara kedua, dengan cara penunjukan oleh khalifah sebelumnya, menurut al-Mawardi, juga dibenarkan oleh syariat Islam.
Bagi pemuja paham demokrasi, pemikiran al-Mawardi mungkin akan dicemooh. Padahal, sejak zaman Yunani Kuno, demokrasi adalah sistem yang dibenci. Demokrasi menyimpan kelemahan-kelemahan internal yang fundamental. Dalam sistem inilah, ilmu pengetahuan tidak dihargai. Orang pintar disamakan haknya dengan orang bodoh. Seorang profesor ilmu politik memiliki hak suara yang sama dengan orang pedalaman yang tidak mengerti baca-tulis dan informasi politik. Seorang yang taat beragama disamakan hak suaranya dengan seorang perampok, koruptor, pembunuh, atau pemerkosa.
Kelemahan dan bahaya internal demokrasi itu pernah diingatkan Plato, filosof Yunani Kuno. Plato (429-347 BC) menyebut empat kelemahan demokrasi. Salah satunya, pemimpin biasanya dipilih dan diikuti karena faktor-faktor non-esensial, seperti kepintaran pidato, kekayaan, dan latar belakang keluarga. Plato memimpikan munculnya the wisest people sebagai pemimpin ideal di suatu negara, The wisest people is the best people in the state, who would approach human problems with reason and wisdom derived from knowledge of the world of unchanging and perfect ideas.
Penyair terkenal Muhammad Iqbal juga banyak memberikan kritik terhadap konsep pemerintahan yang menyerahkan keputusannya kepada massa yang berpikiran rendah. Kata Iqbal, bagaimana pun, para semut tidak akan mampu melampui kepintaran seorang Sulaiman. Ia mengajak meninggalkan metode demokrasi, sebab pemikiran manusia tidak akan keluar dari 200 keledai. Ini ditulisnya dalam syairnya, Payam-e-Masyriq.
Aristoteles (384-322 BC), murid Plato, juga menyebut demokrasi sebagai bentuk pemerintahan buruk, seperti tirani dan oligarkhi. Tiga bentuk pemerintahan yang baik, menurutnya, adalah monarkhi, aristokrasi, dan polity. Sebelum abad ke-18, demokrasi bukanlah sistem yang dipilih umat manusia. Sistem ini ditolak di era Yunani dan Romawi and hampir semua filosof politik menolaknya. Sejak abad ke-18, beberapa aspek dari demokrasi politik mulai diterapkan di Barat. Beberapa ide ini datang dari John Locke, yang banyak memberi sumbangan pemikiran politik terhadap Inggris dan AS. (Lihat, Sharif, M.M., History of Muslim Philosophy, (Karachi: Royal Book Company, 1983), vol I, hal. 98-106; James A. Gould and Willis H. Truit (ed.), Political Ideologies, (New York:Macmillan Publishing, 1973), hal. 29; Mazheruddin Siddiqi, The Image of the West in Iqbal, (Lahore: Baz-i-Iqbal, 1964), hal. 37.
Dalam buku al-Ahkam as-Sulthaniyah, sistem pemerintahan Islam dikaji dengan cukup terperinci. Pemikiran-pemikiran politik yang ada di sini bisa ditelaah dan diambil sebagai bahan pemikiran para politisi Muslim maupun para akademisi Muslim dan para ulama untuk diaplikasikan dalam situasi zaman sekarang ini. Tetapi, yang terpenting. kajian-kajian terhadap karya para ulama kita seyogyanya mampu menyadarkan betapa karya-karya klasik Islam kaya dengan khazanah pemikiran yang sangat relevan jika dikaji dan diterapkan di zaman sekarang. Tentu saja, tidak semuanya dapat diterapkan di dalam satu sistem yang tidak mengambil Islam sebagai satu totalitas sistem kehidupan. Wallahu alam bish-shawab. (***)
Judul kitab : Al-Ahkam As-Sulthoniyah Wal Wilayat Ad-Diniyah
Penulis : Imam Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Habib Al-Mawardi
Muhaqqiq : Dr. Ahmad Mubarok Al-Baghdadi
Penerbit : Maktabah Dar Ibnu Qutaibah - Kuwait
Cetakan : Pertama
Tahun terbit : 1989
Klik di sini
Kitab Al-Iqnaa' Abu Syujaa'
AL-IQNA' FI HALL ALFAZH ABI SYUJA'
Kitab al-Iqna' fi Hall Alfazh Abi Syuja' ( الإقناع في حل ألفاظ أبي شجاع ) merupakan sebuah kitab fiqh mazhab al-Syafi'i yang terkenal di kalangan ulama mazhab al-Syafi'i yang mutaakhir. Kitab ini adalah hasil karya al-Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Muhammad al-Khathib al-Syarbiniy (977H) sebagai huraian (syarah) bagi sebuah matan fiqh yang terkenal, iaitu Matn al-Taqrib atau terkenal dengan nama Matn Abi Syuja' sempena nama pengarangnya al-Qadhi Abu Syuja’, Syihabuddin Ahmad bin al-Hasan bin Ahmad al-Ashbahani(533-593H).
Kitab al-Iqna’ ini menjadi kitab standard bagi kebanyakan pusat pengajian Islam sama ada peringkat menengah maupun peringkat pengajian tinggi di universiti-universiti di Timur Tengah. Di Malaysia, ia dijadikan teks pengajian fiqh Syafi’iyyah di pondok-pondok.
Berdasarkan beberapa edisi Arabnya, kitab ini mempunyai dua juz, yang digabungkan dalam sebuah buku.
Saya dapati kitab ini ada diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu dan diterbitkan oleh Syarikat Perniagaan Jahabersa. Sebagaimana edisi Arabnya, kitab terjemahan ini juga mempunyai dua juz yang digabungkan dalam sebuah buku yang agak tebal, iaitu 1082 halaman.
Di antara kitab hasyiah bagi kitab al-Iqna’ ialah;
aa) Hasyiah ‘ala al-Iqna’, karya al-Imam al-Qalyubi, Abu al-‘Abbas Ahmad bin Ahmad bin Salamah, Syihabuddin al-Qalyubi al-Mishri (1069H/1659M).
bb) Tuhfah al-Habib 'ala Syarh al-Khathib (تحفة الحبيب على شرح الخطيب), karya al-‘Allamah Syaikh Sulaiman bin Muhammad bin ‘Umar al-Bujairimi al-Azhari (1131-1221H). Kitab ini terkenal di kalangan ulama mazhab Syafi’i sebagai al-Bujairimi ‘ala al-Khathib. Baca lagi ...
cc) Hasyiah al-Nabrawi ‘ala al-Iqna’ (حاشية النبراوى على الاقناع شرح الخطيب لأبي شجاع)(masih hidup tahun 1257H), karya Syaikh Abdullah bin Muhammad al-Nabrawi. Berdasarkan terbitan Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, ia dicetak dalam 3 jilid. Kitab ini boleh dimuat turun di pautan حاشية النبراوى على الاقناع.

Kitab al-Iqna' fi Hall Alfazh Abi Syuja' ( الإقناع في حل ألفاظ أبي شجاع ) merupakan sebuah kitab fiqh mazhab al-Syafi'i yang terkenal di kalangan ulama mazhab al-Syafi'i yang mutaakhir. Kitab ini adalah hasil karya al-Syaikh Syamsuddin Muhammad bin Muhammad al-Khathib al-Syarbiniy (977H) sebagai huraian (syarah) bagi sebuah matan fiqh yang terkenal, iaitu Matn al-Taqrib atau terkenal dengan nama Matn Abi Syuja' sempena nama pengarangnya al-Qadhi Abu Syuja’, Syihabuddin Ahmad bin al-Hasan bin Ahmad al-Ashbahani(533-593H).
Kitab al-Iqna’ ini menjadi kitab standard bagi kebanyakan pusat pengajian Islam sama ada peringkat menengah maupun peringkat pengajian tinggi di universiti-universiti di Timur Tengah. Di Malaysia, ia dijadikan teks pengajian fiqh Syafi’iyyah di pondok-pondok.
Berdasarkan beberapa edisi Arabnya, kitab ini mempunyai dua juz, yang digabungkan dalam sebuah buku.
Saya dapati kitab ini ada diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu dan diterbitkan oleh Syarikat Perniagaan Jahabersa. Sebagaimana edisi Arabnya, kitab terjemahan ini juga mempunyai dua juz yang digabungkan dalam sebuah buku yang agak tebal, iaitu 1082 halaman.
Di antara kitab hasyiah bagi kitab al-Iqna’ ialah;
aa) Hasyiah ‘ala al-Iqna’, karya al-Imam al-Qalyubi, Abu al-‘Abbas Ahmad bin Ahmad bin Salamah, Syihabuddin al-Qalyubi al-Mishri (1069H/1659M).
bb) Tuhfah al-Habib 'ala Syarh al-Khathib (تحفة الحبيب على شرح الخطيب), karya al-‘Allamah Syaikh Sulaiman bin Muhammad bin ‘Umar al-Bujairimi al-Azhari (1131-1221H). Kitab ini terkenal di kalangan ulama mazhab Syafi’i sebagai al-Bujairimi ‘ala al-Khathib. Baca lagi ...
cc) Hasyiah al-Nabrawi ‘ala al-Iqna’ (حاشية النبراوى على الاقناع شرح الخطيب لأبي شجاع)(masih hidup tahun 1257H), karya Syaikh Abdullah bin Muhammad al-Nabrawi. Berdasarkan terbitan Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, ia dicetak dalam 3 jilid. Kitab ini boleh dimuat turun di pautan حاشية النبراوى على الاقناع.
MENGENAL AL-IQNA’, SYARAH MATAN ABU SYUJA’ KARYA AL-KHOTHIB ASY-SYIRBINI
Nama lengkap kitab “Al-Iqna’” (الإقناع) adalah “Al-Iqna’ fi Halli Alfazhi Abi Syuja’” (الاقناع في حل ألفاظ أبي شجاع). Lafaz “iqna’” adalah mashdar “aqna’a” yang bermakna “memuaskan”. Jadi, dengan judul itu, pengarang memaksudkan agar orang yang
membaca sudah merasa cukup dan puas dengan penjelasan yang ada di dalamnya sehingga tidak perlu bertanya-tanya lagi terkait memahami kalimat-kalimat yang terdapat pada “Matan Abu Syuja’”. “Al-Iqna’ adalah kitab fikih bermazhab Asy-Syafi’i yang merupakan syarah untuk kitab “Matan Abu Syuja’”. Dari sisi posisinya sebagai syarah, kedudukannya seperti kitab “Fathu Al-Qorib” karya Ibnu Al-Ghorobili/Ibnu Qosim Al-Ghozzi, “Kifayatu Al-Akhyar” karya Al-Hishni, “Tuhfatu Al-Labib” karya Ibnu Daqiqi Al-‘Id, “An-Nihayah” karya Waliyyuddion Al-Bashir dan semisalnya. Hanya saja, kitab “Al-Iqna’” bisa digolongkan syarah panjang (“muthowwal”) meskipun juga tidak terlalu panjang lebar. Kitab “Al-Iqna’” tidak seringkas “Fathu Al-Qorib” atau pertengahan seperti “Kifayatu Al-Akhyar”. Al-Ghozzi menyebutnya sebagai “syarhun muthowwalun hafil” (syarah panjang nan padat)
Motivasi penulisan “Al-Iqna’” adalah atas permintaan kawan-kawan dan murid-murid Asy-Syirbini yang sering mengkaji ilmu bersama beliau. Asy-Syirbini diminta agar berkenan membuat syarah untuk “Matan Abu Syuja’” yang bisa mengurai ungkapan-ungkapan yang sulit dan samar, disertai penjelasan “fawaid fiqhiyyah”, penjelasan ushul fikih, dan pembahasan soal-soal fikih aktual sebagaimana yang ditulis oleh Asy-Syirbini dalam syarah “At-Tanbih”, syarah “Minhaj Ath-Tholibin” dan syarah “Al-Bahjah”. Setelah Asy-Syirbini beristikhoroh beberapa waktu dan salat di dekat makam imam Asy-Syafi’i lalu merasakan dada telah menjadi lapang, barulah beliau memulai menulis “Al-Iqna’” ini.
Sasaran kitab ini sebagaimana ditulis oleh Asy-Syirbini adalah muqoddimahnya adalah untuk para pelajar pemula dan pertengahan. Untuk pelajar pemula diharapkan sudah cukup berpegang kitab ini jika ingin menguasai fikih mazhab Asy-Syafi’i, sementara untuk pelajar pertengahan diharapkan sudah cukup merujuk padanya jika ingin mengajarkan pada orang lain.
Kitab ini, sebagaimana karya-karya Asy-Syirbini yang lain memiliki keistimewaan bahasa yang manis dan jelas. Al-Umani Al-Bashri sangat mengagumi “Al-Iqna’’ karya Asy-Syirbini ini sampai membuat syair khusus untuk memuji kitab ini. Barangkali karena kemudahan bahasa yang digabung dengan mutu kitab yang tinggi lah yang menyebabkan kitab ini dijadikan sebagai kitab yang wajib di pelajari di Al-Azhar.
Dari sisi waktu penulisan, kitab “Al-Iqna’” bukan kitab yang ditulis Asy-Syirbini di awal-awal aktivitasnya menulis. Kitab yang mendahului yang ditulis oleh Asy-Syirbini adalah syarah untuk kitab “At-Tanbih” karya Asy-Syirozi. Setelah itu Asy-Syirbini menulis syarah “Minhaj Ath-Tholibin” yang kita kenal dengan nama “Mughni Al-Muhtaj”. Setelah selesai dua kitab ini barulah Asy-Syirbini mengarang kitab “Al-Iqna’”. Jadi, dengan sejarah seperti ini bisa dipahami bahwa kitab “Al-Iqna’” seakan-akan adalah versi ringkas dari “Syarah At-Tanbih” dan “Mughni Al-Muhtaj“. “Al-Iqna’” selesai ditulis pada tahun 972 H.
Dalam mensyarah, Asy-Syirbini menjelaskan “dhobth” lafaz “Matan Abu Syuja’”, menjelaskan arah merujuknya dhomir, mengurai lafaz-lafaz samar, dan menjelaskan dalil dari setiap permasalahn fikih baik dalil Al-Qur’an maupun As-Sunnah. Saat menjelaskan As-Sunnah kadang-kadang Asy-Syirbini juga mentakhrijnya.
Tidak semua ungkapan yang ditulis Asy-Syirbini mudah dicerna. Kadang-kadang ada ungkapan yang perlu direnungi lebih dalam untuk memahaminya. Untuk memahami dengan cepat dan memastikan maknanya, disarankan untuk memanfaatkan hasyiyah-hasyiyah yang ditulis untuk kitab ini, terutama karya Al-Bujairimi yang lebih terkenal dalam versi cetakan dengan nama “Al-Bujairimi ‘Ala Al-Khothib” (البجيرمي على الخطيب).
Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, institusi Al-Azhar Asy-Syarif telah memandang kitab “Al-Iqna’” ini layak dijadikan kitab resmi yang dipelajari untuk para pelajar yang menuntut ilmu di Al-Azhar. Hanya saja, mengingat tidak semua yang ditulis di “Al-Iqna’” dianggap perlu dipelajari dan demi mempermudah untuk dipahami maka sejumlah ulama yang tergabung dalam tim khusus telah bangkit untuk meringkas dan mentahdzib “Al-Iqna’” ini. Hasil ringkasan mereka diberi nama “Taisiru Al-Iqna’”. Dalam ringkasan ini pembahasan-pembahasan yang tidak ada realitanya dibuang. Termasuk pembahasan-pembahasan yang janggal dan bertentangan dengan realita dan penemuan baru masa kini.
Perhatian ulama terhadap kitab ini cukup tinggi. Ada banyak hasyiyah yang dikarang untuk memperjelas dan menambah informasi di dalamnya. Di antara hasyiyahnya adalah, “Fathu Al- Lathif Al-Mujib bi Ma Yata’allaqu bi Kitabi Iqna’i Al-Khothib” karya Al-Ujhuri (w. 1084 H), “Hasyiyah Al-Madabighi” (w.1170 H)/ “Kifayatu Al-Habib Fi Halli Syarhi Abi Syuja’ Li Al-Khothib”, “Tuhfatu Al-Habib” karya Al-Bujairimi (w.1221 H), “Hasyiyah An-Nabrowi” (w.1275 H), “Taqrir ‘Awadh”, “Taqrir Al-Bajuri” (w. 1277 H), “Hasyiyah As-Sija’i”, “Hasyiyah Al-Qolyubi”, “Hasyiyah Al-Marhumi”, dan lain-lain.
Di antara sekian banyak Hasyiyah ini, yang paling terkenal dan telah dicetak adalah “Tuhfatu Al-Habib” atau yang lebih populer dengan nama “Al-Bujairimi ‘Ala Al-Khothib” dan “Hasyiyah An-Nabrowi”.
Manuskrip kitab ini bisa ditemukan di sejumlah perpustakaan, di antaranya “Dar Al-Kutub Al-Mishriyyah” di Mesir, perpustakaan “Markaz Al-Malik Faishol li Al-Buhuts wa Ad-Dirosat Al-Islamiyyah” di Riyadh; Saudi Arabia, “Maktabah Al-Auqof” di Mosul; Irak, “Dar Al-Kutub Al-Mishriyyah” di Kairo; Mesir, “Al-Ashifiyyah” di Haidarabad; India, “Maktabah Al-Harom Al-Makki” di Mekah; Saudi Arabia, ‘Al-Maktabah Al-Markaziyyah’ di Jedah; Saudi Arabia, “Maktabah Al-Auqof di Aleppo, Suriah”, “Dar Al-Kutub Al-Quthriyyah” di Doha; Qatar, “Maktabah Kulliyyatu Al-Adab Wa Al-Makhthuthot” di Kuwait, Bibliothèque nationale de France di Paris; Prancis, John Rylands Library, di Manchester; Inggris, “Princeton Library” di Amerika Serikat, dan lain-lain.
Sejumlah penerbit tercatat pernah mencetak kitab ini. Di antaranya adalah penerbit “Bulaq” tahun 1284 (dengan catatan pinggir “Hasyiyah Al-Madabighi” yang kemudian diterbitkan lagi tahun 1291 H dengan menyertakan taqrir syaikh ‘Awadh, lalu diterbitkan lagi tahun 1293 H dengan menyertakan taqrir Syaikh Al-Bajuri), “Al-Mathba’ah Al-Maimaniyyah” tahun 1307 H dengan disertai “Hasyiyah Al-Bujairimi” (kemudian dicetak lagi tahun 1310 H dan 1338 H), “Al-Mathba’ah Al-Khoiriyyah” di Mesir tahun 1318 H, “Mushthofa Al-Baby Al-Halaby” tahun 1359 H, Al-Azhar sebagai muqorror, “Dar Al-Fikr” di Beirut tahun 1415 H, “Dar Al-Khoir” di Beirut tahun 1417 H, “Dar Al-Kutub Al-‘Ilmiyyah” tahun 1425 H, “Dar Ibnu Hazm & Al-Jaffan wa Al-Jabi” tahun 1434 H, dan lain-lain.
Penerbit “Dar al-Fikr” menerbitkannya dalam 2 jilid atas jasa tahqiq “Maktab Al-Buhuts Wa Ad-Dirosat Dar Al-Fikr”. Penerbit “Al-Jaffan wa Al-Jabi” & “Dar Ibnu Hazm” mencetaknya dalam 3 jilid dengan ketebalan 1688 halaman atas jasa Tahqiq Bassam Al-Jabi.
رحم الله الشربيني رحمة واسعة
اللهم اجعلنا من محبي العلماء الصالحين
اللهم اجعلنا من محبي العلماء الصالحين
Kitab Al-Iqnaa' Al-Mawardy
الإقناع للموردي
al-Iqna' ( الإقناع )
Kitab al-Iqna’ ( الإقناع )[1] yang ingin dikongsi dengan pembaca adalah sebuah karya dalam bidang hadis hukum yang disusun oleh al-Imam al-Hafizh al-Mujtahid Abu Bakr Muhammad bin Ibrahim bin al-Munzir al-Naysaburi (318H), yang terkenal dengan gelaran Ibn al-Munzir.
Kandungan kitab ini dibahagikan kepada beberapa judul permasalahan fiqh yang dinamakan sebagai kitab tertentu, seperti kitab thaharah (bersuci), kitab Solat dan sebagainya. Setiap kitab pula dibahagikan kepada beberapa bab.
Dalam kitab al-Iqna’ ini, Ibn al-Munzir bukan sekadar menghimpunkan hadis-hadis hukum sahaja, bahkan beliau juga memberikan huraian atau komentar setiap hadis tersebut.
Berdasarkan kitab al-Iqna’ yang ditahkik oleh Dr. Abdullah bin Abdul Aziz al-Jibrin, yang diterbitkan dengan cetakan pertamanya pada tahun 1988, kitab ini diterbitkan dalam dua jilid (828 halaman). Kitab ini boleh dimuat turun di pautan الإقناع
[1] Selain kitab ini, terdapat kitab lain yang juga berjudul al-Iqna’, antaramya;
a) al-Iqna’ fi al-Fiqh al-Syafi’i (الإقناع في الفقه الشافعي), karya al-Imam Abu al-Hasan ‘Ali bin Muhammad bin Habib al-Mawardi al-Bashri al-Baghdadi (364-450H). Baca maklumat lanjut di sini.
b) al-Iqna’ fi Masail al-Ijma’ (الإقناع في مسائل الإجماع). Sebuah kitab yang memhimpun beberapa permasalahan hukum yang dianggap menjadi ijmak para ulama. Kitab ini disusun oleh al-Imam Ibn al-Qaththan Abu al-Hasan Ali bin Muhammad bin Abdul Malik al-Katami al-Hamiri al-Fasi (). Kitab ini boleh dimuat turun di pautan http://waqfeya.com/book.php?bid=8916.
c) al-Iqna’ fi Hal Alfazh Abi Syuja’ (الإقناع في حل ألفاظ أبي شجاع). Sebuah kitab fiqh mazhab Syafi’i karya al-‘Allamah Muhammad Al-Khathib al-Syarbini (977H). Baca maklumat lanjut mengenai kitab ini di sini..
d) al-Iqna’ li Thalib al-Intifa’ (الإقناع لطالب الانتفاع). Sebuah kitab fiqh mazhab Hanbali karya Syarafuddin Abu al-Naja Musa bin Ahmad al-Hijjawi al-Maqdisi, al-Dimasyqi al-Hanbali (895-968H). Maklumat maklumat lanjut mengenai kitab ini, boleh dibaca sebuah artikel (dalam bahasa Arab) di pautan http://www.feqhweb.com/vb/t3139.html. Kitab ini boleh dimuat
Download Kitab Al-Iqna' Fil Fiqhi Asy-Syafi'i - Imam Al-Mawardi
KItab Kuning Fiqih (Al-Ummy Lisy-Syafi'y
Kitab Kuning Fiqih
POSTED BY UNKNOWN POSTED ON 11:38 AM WITH NO COMMENTS
كتب الفقه
الأمي للشافعي
KITAB AL-UMM – karya agung al-Imam al-Syafi-‘i r.h
Imam Muhammad bin Idris al-Syafi’-‘i ( 150-204H ) atau lebih dikenali dengan Imam al-Syafi-‘i banyak meninggalkan karya yang menjadi rujukan umat Islam. Ada dua peringkat penulisan al-Syafi-‘i, kitab yang beliau tulis di Makkah dan Baghdad dinamakan Qawl Qadim ( pendapat lama ) dan Kitab yang ditulis ketka beliau di Mesir dinamakan Qawl Jadid ( pendapat baru ).
Ada tiga kaedah penulisan karya atau kitab yang dinisbahkan kepada al-Syafi-‘i, iaitu;
1. Kitab yang ditulis sendiri oleh al-Syafi-‘i.
2. Kitab yang ditulis oleh murid-murid beliau berdasarkan pembacaan oleh Imam al-Syafi-‘i dihadapan mereka atau dikenali sebagai kaedah imlak ( al-imla_i ).
3. Kitab yang disusun oleh murid-murid al-Syafi-‘i berdasarkan syarahan atau pengajaran al-Syafi-‘i. Di mana murid-murid beliau membuat catatan atau nota ketika mendengar kuliahnya, kemudian mereka menyusun kembali catatan tersebut menjadi semua kitab.
Kaedah ini banyak dipraktikkan oleh para ulama dahulu dan sekarang. Pada zaman kini, banyak buku-buku yang diterbitkan, setelah diolah dan disusun berdasarkan kuliah atau syarahan para ulama yang terkenal, lalu dinisbahkan kandungan buku tersebut kepada mereka. Sedangkan, mereka sebenarnya tidak pernah menulis buku tersebut. Di antara kitab yang masyhur masa kini yang mengunakan kaedah ini ialah buku-buku yang dinisbahkan kepada al-Syeikh Mutawalli al-Sya’rawi seperti kitab al-Fatawa dan Tafsir al-Sya’rawi, karya-karya al-Syeikh Abdul ‘Aziz bin Baz dan buku-buku yang dinisbahkan kepada Tuan Guru Nik Abdul Aziz bin Nik Mat.
Kaedah ini banyak dipraktikkan oleh para ulama dahulu dan sekarang. Pada zaman kini, banyak buku-buku yang diterbitkan, setelah diolah dan disusun berdasarkan kuliah atau syarahan para ulama yang terkenal, lalu dinisbahkan kandungan buku tersebut kepada mereka. Sedangkan, mereka sebenarnya tidak pernah menulis buku tersebut. Di antara kitab yang masyhur masa kini yang mengunakan kaedah ini ialah buku-buku yang dinisbahkan kepada al-Syeikh Mutawalli al-Sya’rawi seperti kitab al-Fatawa dan Tafsir al-Sya’rawi, karya-karya al-Syeikh Abdul ‘Aziz bin Baz dan buku-buku yang dinisbahkan kepada Tuan Guru Nik Abdul Aziz bin Nik Mat.
Kitab beliau yang paling utama dan menjadi teras dalam mazhab as-Syafi’-‘i ialah Kitab al-Umm ( Kitab Induk ). Ia dinamakan sedemikian kerana boleh dikatakan semua penulisan dalam mazhab al-Syafi’-‘i berasal daripada kitab ini.
Kitab al-Umm dari satu sudut merupakan kitab fiqh terbesar dan tiada tandingan pada masanya. Kitab ini membahas berbagai persoalan lengkap dengan dalil-dalilnya, baik dari al-Qur’an, al-Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Isi kitab ini adalah sebagai bukti keluasan ilmu al-Syafi’i dalam bidang fiqh. Sedangkan dari sudut yang lain, ia juga dianggap sebagai kitab hadits kerana dalil-dalil hadits yang ia kemukakan menggunakan jalur periwayatan tersendiri sebagaimana layaknya kitab-kitab hadits.
Di kalangan ulama terdapat keraguan dan perbezaan pendapat, mengenai penulisan kitab al-Umm,adakah ia ditulis oleh al-Syafi-‘i sendiri atau karya para muridnya. Menurut Ahmad Amin, al-Ummbukanlah karya langsung dari al-Syafi’i, namun merupakan karya muridnya yang menerima dari al-Syafi’i dengan jalan didiktekan [ imlak ]. Sedangkan menurut Abu Zahrah dalam al-Umm ada tulisan al-Syafi’i sendiri tetapi ada juga tulisan dari muridnya, bahkan ada pula yang berpendapat bahwa dalam al-Umm ada juga tulisan orang ketiga selain al-Syafi’i dan al-Rabi’ [ muridnya ]. Namun menurut riwayat yang masyhur diceritakan bahwa kitab al-Umm adalah catatan peribadi al-Syafi-‘i, kerana setiap pertanyaan yang diajukan kepadanya ditulis, dijawab dan didiktekan kepada murid-muridnya. Oleh karena itu, ada pula yang mengatakan bahwa kitab itu adalah karya dua orangmuridnya iaitu Imam al-Buwaiti dan Imam al-Rabi’. Pendapat ini dikemukakan oleh Abu Thalib al-Makki.
Walau apapun pandangan ulama mengenai kaedah penyusunan kitab al-Umm ini, yang pastinya kitab ini boleh dinisbahkan al-Syafi’i kerana ia memuatkan pandangan dan pemikirannya dalam bidang hukum berdasarkan riwayat murid-muridnya yang diakui ummah sebagai perawi yang adil dan tsiqah. Sebagaimana kaedah penulisan dan penyusunan hadits Rasulullah saw, yang disusun oleh para muhaddisin berdasarkan riwayat-riwayat yang sahih di sisi mereka.
Dalam menghuraikan keterangan-keterangannya, Imam al-Syafi‘i kadang-kadang memakai metodsoal-jawab, dalam erti menghuraikan pendapat pihak lain yang diadukan sebagai sebuah pertanyaan, kemudian ditanggapinya dalam bentuk jawapan. Hal itu nampak umpamanya ketika ia menolak penggunaan al-istihsan. Pada kesempatan yang lain ia menggunakan metod eskplanasi dalam arti menghuraikan secara panjang lebar suatu masalah dengan memberikan penetapan hukumnya berdasarkan prinsip-prinsip yang dianutnya tanpa ada sebuah pertanyaan, hal seperti ini nampak dalam penjelasannya mengenai persoalan-persoalan pernikahan.
Dalam format kitab al-Umm yang dapat ditemui pada masa sekarang, ada juga yang dicetakkan bersama kitab-kitabnya yang lain dalam satu kitab al-Umm, di antaranya adalah:
- al-Risalah, mengandungi huraian sumber hukum islam, serta kaedah-kaedah pengistinbatan hukum syarak.
- Khilaf Malik, mengandungi bantahan-bantahan al-Syafi‘i terhadap beberapa pendapat gurunya Imam Malik.
- al-Radd ‘Ala Muhammad ibn Hasan, mengandungi pembelaan al-Syafi‘i terhadap mazhab ulama Madinah dari serangan imam Muhammad ibn Hasan, murid Abu Hanifah.
- al-Khilaf ‘Ali wa Ibn Mas’ud, iaitu kitab yang memuatkan perbezaan pendapat antara Abu Hanifah dan ulama Irak dengan Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Mas’ud.
- Sair al-Auza-’i, berisi pembelaannya atas imam al-Auza’i dari serangan imam Abu Yusuf.
- Ikhtilaf al-Hadits, berisi keterangan dan penjelasan al-Syafi-‘i atas hadits-hadits yang tampak bertentangan. namun kitab ini juga ada yang dicetak tersendiri
- Jima’ al-‘Ilmi, berisi pembelaan imam al-Syafi’i terhadap Sunnah Nabi Muhammad saw.
Kitab al-Umm ini telah diringkaskan oleh Imam al-Muzani dalam kitabnya bertajuk Mukhtasar al-Muzani. Dua abad kemudian, kitab Mukhtasar al-Muzani ini disyarahkan oleh Imam al-Haramain al-Juwaini dalam kitabnya berjudul Nihayatul Mathlab fi Dirayah al-Mazhab. Salah seorang murid al-Juwaini iaitu al-Imam al-Ghazali pula meringkaskan kitab gurunya itu lalu diberi tajuk al-Basith. Seterusnya al-Ghazali meringkasnya menjadi kitab al-Wasith, kemudian al-Wasith diringkas pula menjadi kitab al-Wajiz. Kitab al-Wajiz ini diringkas lagi menjadi kitab al-Khulashah.
Kitab al-Wajiz juga turut diringkaskan semula oleh seorang lagi ulama’ mazhab al-Syafi‘i bernama al-Rafi-‘i dalam kitabnya al-Muharrar. Selanjutnya, al-Nawawi pula meringkaskan kitab al-Muharrar dalam kitabnya Minhaj al-Thalibin, yang mana ia menjadi pegangan utama ulama Syafi‘iyyah dalam berijtihad dan berfatwa. Kitab ini seterusnya diringkaskan oleh Syeikh al-Islam Zakaria al-Ansari dalam kitab al-Manhaj al-Thullab dan kitab al-Manhaj pula diringkaskan oleh al-Imam al-Jauhari menjadi al-Nahj, dan al-Syaikh Zainuddin al-Malibiri dalam kitabnya Qurrah al-‘Ayn.
Bab yang disusun dalam kitab al-Umm hampir sama penempatannya dengan Minhaj al-Talibin atau syarahnya. Kitab ini dikira sebagai asas bagi rujukan ulama’ as-Syafi‘i yang muta’akhkhirin ( terkemudian ). Kitab ini mempunyai syarah (huraian) dan hawasyi (nota tepi) yang sangat banyak. Antaranya ialah Mughni al-Muhtaj oleh al-Khatib as-Syarbini, al-Minhaj wa Syarhuhu oleh Zakaria al-Anshari, Tuhfah al-Muhtaj oleh Ibnu Hajar al-Haitami, Nihayah al-Muhtaj oleh ar-Ramli danZad al-Muhtaj fi Syarh al-Minhaj oleh Abdullah bin Hasan Ali Hasan al-Kuhaji.
Kedudukan Kitab al-Umm Berbanding Kutub al-Tis’ah
al-Syafi-‘i tidak hanya berperanan dalam bidang fiqh dan ushul fiqh saja, tetapi ia juga berperanandalam bidang hadits dan ilmu hadits. Salah satu kitab hadits yang masyhur pada abad kedua Hijriyah adalah kitab Musnad al-Syafi’i. Kitab ini tidak disusun oleh al-Syafi’i sendiri, melainkan oleh pengikutnya, yaitu al-A’sam yang menerima riwayat dari Rabi’ bin Sulaiman al-Muradi, dari al-Syafi’i. Hadits-hadits yang terdapat dalam Musnad al-Syafi’i merupakan kumpulan dari hadits-hadits yang terdapat dalam kitabnya yang lain iaitu al-Umm. Dalam bab jual beli, misalnya i Siniterdapat 48 buah hadits.
Dengan kegigihannya dalam membela hadits Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam sebagai hujjah, al-Syafi’i berhasil menegakkan autoriti hadits dan menjelaskan kedudukan dan fungsi hadits Nabi secara jelas dengan alasan-alasan yang mapan. Dengan pembelaannya itu, ia memperolehi pengakuan dari ummah sebagai Nasir al-Sunnah. Bahkan beliau dipandang sebagai ahli hukum Islam pertama yang berhasil merumuskan konsep ilmu hadits.
Hadits Nabi menurut al-Syafi’i bersifat mengikat dan harus ditaati sebagaimana al-Qur’an, walaupun hadits itu adalah hadits Ahad. Bagi ulama sebelumnya, konsep hadits tidak hanya disandarkan kepada Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, bahkan juga pendapat sahabat, fatwa tabi’in, serta ijma ahli Madinah dapat dimasukkan sebagai hadits. Bagi al-Syafi’i, pendapat sahabat dan fatwa tabi’in hanya boleh diterima sebagai dasar hukum sekunder, dan bukan sebagai sumber primer. Sedangkan hadits yang boleh diterima sebagai dasar hukum primer hanyalah yang datang dari Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Tambahan;
- Kitab al-Umm telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh Prof. Teuku H. Ismail Yakub SH, MA . Telah diterbitkan dalam 11 buku.
- Terjemahan Ringkasan Kitab al-Umm telah diterbitkan oleh Pustaka Imam Asy-Syafi’I, Indonesia. Ia merupakan terjemahan Mukhtashar Kitab al-Umm Fi al-Fiqh , yang diringkaskan oleh Husain Abdul Hamid Abu Nashir Nail
Klik di sini
untuk men-download
Jilid 1 - Jilid 2 - Jilid 3 - Jilid 4 - Jilid 5 - Jilid 6 - Jilid 7 - Jilid 8 - Jilid 9 - Jilid 10 - Jilid 11
الإقناع للموردي
Download Kitab Al-Iqna' Fil Fiqhi Asy-Syafi'i - Imam Al-Mawardi
POSTED BY MY BLOG POSTED ON 21.06 WITH NO COMMENTS




Categories :
PPS AL-BAROKAH






